Prawacana
Grup Adaro kembali menjadi sorotan pasar setelah saham-saham utamanya menunjukkan penguatan signifikan. Kenaikan ini tidak terjadi tanpa alasan, melainkan didorong oleh sejumlah katalis positif yang memperkuat prospek bisnis masing-masing entitas di dalam grup. Mulai dari peningkatan harga komoditas, ekspansi hilirisasi, hingga potensi dividen yang menarik, semuanya berkontribusi terhadap optimisme investor terhadap kinerja Grup Adaro ke depan.
ADMR: Diuntungkan Permintaan Baja dan Proyek Hilirisasi Aluminium
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) memiliki fokus utama pada produksi batu bara metalurgi atau coking coal, yaitu jenis batu bara yang digunakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan baja. Selama industri baja global tetap tumbuh—terutama didorong oleh pembangunan infrastruktur dan perkembangan kendaraan listrik (EV)—permintaan terhadap komoditas ini diperkirakan tetap kuat. Saat ini, harga coking coal tercatat meningkat sekitar 1% menjadi US$225 per ton, yang memberikan sentimen positif terhadap potensi pendapatan perusahaan.
Selain itu, ADMR juga mulai memasuki fase operasional awal proyek smelter aluminium sejak akhir tahun 2025. Momentum ini diperkuat oleh kondisi pasar aluminium global yang sedang mengalami kenaikan harga, terutama karena kebijakan China yang membatasi produksi aluminium maksimal hingga 45 juta ton. Pembatasan pasokan ini menciptakan peluang bagi produsen lain, termasuk ADMR, untuk meningkatkan kontribusi pendapatan dari segmen hilirisasi.
Dengan kombinasi faktor tersebut, kinerja ADMR pada tahun 2026 diproyeksikan mengalami pertumbuhan signifikan. Pendapatan diperkirakan meningkat hingga 121%, sementara laba bersih diproyeksikan naik sekitar 68%, mencerminkan potensi ekspansi bisnis yang agresif.
ADRO: Diversifikasi ke Energi Alternatif Melalui Proyek DME
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) juga menunjukkan langkah strategis melalui pengembangan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). DME merupakan bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti LPG. Mengingat Indonesia masih mengandalkan impor LPG dalam jumlah besar, proyek ini membuka peluang bagi ADRO untuk menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Dari sisi kinerja keuangan, ADRO diproyeksikan mencatat pendapatan stabil pada kisaran US$1,9 miliar pada tahun 2026. Laba bersih diperkirakan mencapai US$494 juta, dengan margin laba bersih yang tetap kuat di kisaran 25% hingga 28%. Stabilitas margin ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjaga efisiensi operasional meskipun berada di tengah fluktuasi harga komoditas energi.
AADI: Kombinasi Harga Stabil, Peningkatan Volume, dan Potensi Dividen Tinggi
Kinerja PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga diperkirakan akan mengalami peningkatan pada tahun 2026. Hal ini didukung oleh stabilitas harga thermal coal yang berada di kisaran US$100–110 per ton, serta potensi peningkatan volume penjualan, khususnya dari pasar India yang masih memiliki permintaan tinggi terhadap batu bara sebagai sumber energi.
Selain itu, upaya efisiensi biaya produksi turut berkontribusi terhadap peningkatan margin keuntungan perusahaan. Berdasarkan proyeksi, pendapatan AADI diperkirakan mencapai sekitar US$5,7 miliar atau tumbuh sekitar 11,3%. Laba bersih diproyeksikan meningkat menjadi sekitar US$1,21 miliar, atau naik sekitar 16,3%, dengan margin laba bersih yang tetap solid di kisaran 21%.
Tidak hanya itu, AADI juga memiliki potensi untuk membagikan dividen dalam jumlah besar. Proyeksi yield dividen tahun ini berada di kisaran 7,4%, menjadikannya salah satu emiten yang menarik bagi investor dengan strategi dividend investing.
Kesimpulan: Fundamental Kuat Menjadi Alasan Grup Adaro Tetap Bersinar
Secara keseluruhan, penguatan saham-saham Grup Adaro didukung oleh kombinasi katalis fundamental yang kuat. ADMR diuntungkan oleh permintaan baja global dan ekspansi ke sektor aluminium, ADRO memperluas bisnis melalui hilirisasi batu bara menjadi DME, sementara AADI menunjukkan kinerja stabil dengan potensi pertumbuhan dan dividen yang menarik.
Diversifikasi bisnis, dukungan harga komoditas, serta strategi hilirisasi menjadi faktor utama yang memperkuat posisi Grup Adaro di tengah dinamika sektor energi dan pertambangan. Hal ini menjelaskan mengapa saham-saham dalam grup ini mampu menunjukkan kinerja yang lebih menonjol dibandingkan banyak emiten lain di sektor yang sama.
Daftar Pustaka
https://www.adaro.com
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. Laporan Tahunan dan Presentasi Investor.
https://www.adarominerals.id
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. Laporan Keuangan dan Paparan Investor.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Statistik Batu Bara Indonesia.
https://www.esdm.go.id
International Energy Agency (IEA). Coal Market and Energy Outlook Reports.
https://www.iea.org
World Steel Association. Steel Demand and Production Outlook.
https://www.worldsteel.org
London Metal Exchange (LME). Data Harga Aluminium dan Komoditas.
https://www.lme.com

Komentar
Posting Komentar